Desa Bator berada di Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan. Desa Bator terdiri dari lima dusun yaitu, Dusun Laoksabe, Dusun Tengginah, Dusun Betan, Dusun Pokak, dan Dusun Tangluar. Desa Bator memiliki tipe tanah tadah hujan. Sehingga tidak semua tanaman dapat tumbuh subur di Desa Bator. Potensi yang banyak ditemui di Desa Bator adalah banyaknya pohon mangga, pohon sukun, dan bambu yang tumbuh di sekitar rumah masyarakat Desa Bator. Desa ini juga memiliki berbagai pontensi yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat lain. Setiap dusun di Desa Bilangan memiliki potensi unggulan yang berbeda-beda, antara lain:


1. Dusun Laoksabe
Dusun Laok Sabe terletak di desa Bator bagian selatan. Dusun ini dekat dengan pasar dan polsek. Mayoritas penduduk di dusun Laok Sabe bekerja sebagai pedagang. Selain itu banyak juga yang merantau dan pelayaran. Sementara kaum perempuan menjadi ibu rumah tangga. Di dusun ini banyak tumbuh pohon bambu dan jati.

2. Dusun Tengginah
Dusun tengginah terletak di desa Bator bagian timur. Dusun ini dekat dengan pasar, polsek, dan indomaret. Kebanyakan penduduknya bermata pencaharian sebagai pedagang di pasar klampis. Selain itu banyak juga penduduk yang merantau ke Malaysia dan juga pelayaran. Di dusun Tengginah ada lapangan voli yang biasa digunakan oleh warga untuk bermain voli pada sore hari.

3. Dusun Betan
Dusun betan merupakan dusun yang letaknya berbatasan dengan desa tenggun. Penduduk dusun betan banyak yang bekerja sebagai kuli tambang kerikil yang terletak di desa tenggun. selain itu, banyak juga masyarakat di dusun ini yang bekerja sebagai pedagang di pasar klampis. hal tersebut di dasari dengan letak geografis desa betan yang dekat dengan desa tenggun daripada dengan dusun yang ada di desa Bator. Sebagian besar pendidikan penduduk untuk saat ini sudah sampai tingkat SMA, ada juga yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

4. Dusun Tangluar
Dusun tangluar merupakan dusun yang paling jauh di desa Bator. Dusun Tang  luar terletak di desa bator bagian barat. Di dusun tangluar mata pencahariannya petani, pedagang dan pelayaran.  Banyak juga penduduk yang tidak memiliki pekerjaan/pengangguran. Potensi yang dimiliki di dusun Tangluar pohon jati dan ketela pohon.

5. Dusun Pokak
Mata pencaharian masyarakat dusun Pokak adalah petani (sebagian besar), pelayaran dan merantau keluar negeri. Petani di dusun pokak masih menggunakan tanah tadah hujan sehingga hasil pertaniaannya kurang menguntungkan. Masyarakat di dusun tersebut, jarang yang bekerja sebagai pegawai. Sebagian besar ibu-ibu di dusun pokak membuat rendeng untuk menambah penghasilan. Rendeng merupakan tempat ikan yang dibuat dari bambu yang dianyam. Biasanya 100 buah rendeng dijual dengan harga 20-25rb. Dalam sehari, biasanya ibu-ibu tersebut dapat menghasilkan 100 buah rendeng. Lahan pertanian di dusun pokak tidak terlalu luas dan kebanyakan di tanami padi. Potensi tanaman di desa Bator adalah bambu dan jati.

Pendidikan di Desa Bator

Pendidikan adalah hal yang utama untuk menentukan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) juga memberi pengaruh pada perkembangan perekonomian individu. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi, maka akan berpengaruh juga pada tingkat kecakapan masyarakat yang mempengaruhi pula kualitas individu, keterampilan, kewirausahaan bahkan membangun lapangan pekerjaan baru untuk individu lainnya. 

Di desa Bator, jenjang tingkat pendidikan termasuk bagus, karena dari tingkat PAUD, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama. Di Desa Bator memiliki tiga SDN (Sekolah Dasar Negeri) dengan jumlah murid keseluruhan 629 anak didik dan 34 guru yanng menyebar di tiga Sekolah Dasar Negeri yang ada di Desa Bator. 

Dalam tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama) Desa Bator hanya memiliki 1 SMPN dengan jumlah murid 713 dengan pengajar 44 guru. Lembaga pendidikan dalam binaan kementrian agama, di desa Bator memilki 6 Diniyah dengan jumlah santri 479 dan 1 Pondok Pesantren dengan jumlah santri 22. Di Desa Bator tidak ada SMA (Sekolah Menengan Atas), tetapi bukan berarti masyarakat yang memiliki usia wajib sekolah sembilan tahun menghentikan pendidikannya. Siswa-siswi yang sudah menempuh SMP di desa bator langsung melanjutkan sekolahnya di Aliyah, yang letaknya di dalam pesantren yang ada di Desa Bator

Bagi siswa-siswi yang menginginkan meneruskan pendidikannya di SMA Negeri, harus sekolah di kota atau berbeda kecamatan. Tapi mayoritas siswa-siswi melanjutkan pendidikan tingkat menengah keatas di Sekolah Aliyah yang ada di dalam pesantren. Ada juga sebagian lulusan dari sekolah tingkat menengah keatas yang melanjutkan pendididikan ke jenjang lebih tinggi, seperti Kuliah dan sekolah Pelayaran. Namun, jumlahnya tidak banyak, kurang lebih 10 orang dari jumlah penduduk yang ada di Desa Bator.  

Dari data yang ada di lapangan membuktikan bahwa penduduk Desa Bator hanya mampu menyelesaikan sekolah di jenjang pendidikan wajib belajar dua belas tahun (SD, SMP, dan SMA). SDM yang ada di Desa Bator dirasa cukup mendapatkan pendidikan sekolah, hanya saja di sana memilki sekolah yang cukup sedikit. Sarana pendidikan di Desa Bator yang berbasis pendidikan Negeri hanya tersedia di tingkat pendidikan dasar 9 tahun (DS dan SMP), untuk sarana tingkat menengah keatas yang berbasis Pendidikan Negeri berada di kota atau berbeda kecamatan yang membutuhkan jarak tempuh jauh dan ditempuh dengan angkutan umum atau pribadi. 

Untuk menyikapi fenomena yang ada di lapangan, Desa Bator membutuhkan keterampilan bagi siswa dan siswi yang sudah menempuh sekolah menengah keatas, yakni pelatihan dan kursus. Namun, sarana dan lembaga ini ternyata juga belum tersedia dengan baik di Desa Bator bahkan beberapa lembaga bimbingan belajar dan pelatihan yang pernah ada tidak bisa berkembang. 

Berdasarkan hasil observasi lapangan yang telah kelompok kami lakukan dapat diketahui bahwa untuk fasilitas bangunan sekolah yang ada di desa Bilangan rata-rata sudah memadai, mulai dari ruang kelas, ruang kantor, halaman dan lapangan tempat upacara maupun lapangan olahraga, beberapa sekolah memiliki ruang perpustakaan akan tetapi perpustakaan tersebut kurang dimanfaatkan karena dijadikan sebagai ruang kelas. Sehingga untuk ruang perpustakaan sementara di non aktifkan. Fasilitas ruang kelas yang sudah memadai, hal ini dapat dilihat dari media pembelajaran yang digunakan, ruangan kelas yang tertata rapi, bersih, terdapat empat kipas angin setiap kelas dan disediakan peralatan kebersihan oleh pihak sekolah. Untuk  fasilitas kantor guru  juga sudah memadai mulai dari alat-alat kantor maupun perlengkapan kantor lainnya dan ruangan kantor yang luas. Peralatan kantor juga sudah dilengkapi dengan peralatan komputer dan printer.

Budaya Desa Bator Kec. Klampis Kab. Bangkalan

Di desa bator ini memiliki banyak sekali kesenian yang masih tetap eksis sampai saat ini. Mulai dari kesenian hadrah, lalu ada pencak silat, seni macopat, seni wayang topeng, orkes melayu, dan juga saronen. Kesenian-kesenian tersebut masih tetap terjaga hingga saat ini karena Bapak Rasyid selaku kepala desa Bator, berkeinginan untuk membimbing dan mengarahkan para pemuda desa agar tidak terjerumus ke hal yang negatif. Maka, kegiatan di bidang seni menjadi salah satu alternatif yang dapat dilakukan para pemuda desa Bator.

Selain itu, ada juga sebuah tradisi yang setiap tahun rutin di lakukan yaitu rokat desa. Tradisi Rokat Desa atau yang biasa disebut dengn Barokatan, memiliki tujuan untuk dijauhkan desa dari marabahaya, selain itu juga di maksudkan untuk mendapat barokah bagi desa Bator. Dalam acara Rokat Desa ini diiringi dengan alunan musik dari seni Saronen. Selain itu, dalam acara ini terdapat pula sesajen yang selalu digunakan di setiap acara Rokat Desa dilakukan, sesajen tersebut berupa perahu buatan yang nantinya akan dilepas menuju ke tengah laut. Hal ini bertujuan untuk membuang sangkal agar desa selalu diberi keselamatan oleh Sang Maha Pencipta.


Setiap daerah maupun desa pasti memiliki sejarah dan latar belakang yang berbeda-beda. Sejarah daerah atau desa sering tertuang dalam dongeng-dongeng yang diwarisi secara turun temurun ceritanya secara lisan, sehingga sulit untuk dibuktikan kebenarannya, dan tidak jarang dongeng-dongeng tersebut dihubungkan dengan mitos tempat-tempat yang dianggap keramat. Dalam hal ini Desa Bator juga memiliki hal yang sama dengan cerita-cerita rakyat tersebut. 

Desa Bator berasal dari cerita yang bermula dari seorang laki-laki yang taat pada kepercayaan yang pada saat itu sembahannya adalah laut. Karena Desa Bator dekat dengan laut, dan mencukupi kebutuhannya dari hasil laut, logika yang dibangun oleh masyarakat pada saat itu adalah cara menghargai apa yang telah memberi kecukupan dari kebutuhan sehari-hari, oleh sebab itu masyarakat membawa sesajen setiap hari kamis sore atau malam jum’at yang diserahkan pada laut.

Laki-laki yang dianggap imam oleh masyarakat Bator sangat disegani dan dihormati, seluruh ucapan dan perintahnya selalu diikuti dengan takdim. Hingga suatu ketika, laki-laki itu mator pada masyarakat untuk menjaga laut. Setelah lelaki itu meninggal dan masyarakat bersepakat untuk menamai Desa dengan nama Bator yang bermula dari bahasa madura halus yakni mator, yang artinya berucap atau berbicara dan bisa diartikan berpesan. Namun hingga saat ini isi pesan itu masih diartikan kabur, ada yang mengartikan untuk menjaga laut, ada juga yang mengartikan untuk selalu memberi sesajen pada laut, agar laut tidak marah. Pengertian yang demikian diyakini oleh masyarakat Bator terhadap sejarah desanya sendiri.